Beranikah kita mengakui kesalahan dan kegagalan kita untuk memperbaiki apa yang telah kita hancurkan ?

Hari menuju malam , sang mentari telah sampai pada titik perpisahan, di depan sebuah rumah tempat bernaung sementara ini, aku menyaksikan sosok-sosok yang bergerak kesana kemari lalu lalang dengan mata yang berbinar namun anehnya mereka sama sekali tak melihat keberadaan ku. Sementara lampu-lampu jalan mulai menyala, bayang-bayang di atas aspal yang basah karena hujan , memantulkan ribuan ilusi ke dalam hatiku. Ribuan ilusi dan harapan yang telah terpantul oleh waktu. 

Siapakah yang dapat menahannya? 

Bayang - bayang Wajahku yang terpantul dari kaca seakan akan melemparkan ejekan dan mengingatkan kesombongan dan keperkasaan masa mudaku. Hujan rintik membasahi jalan dan hati yang sepi menjalin benang-benang rindu jauh di dalam hati yang merintih. pada siapakah lagi aku memohon maaf atas segela kekhilafan ku. 

Siapakah yang dapat menyatakan kepadaku, untuk dan karena apakah segala bencana yang terjadi dalam hidup ini, , Nasib? Takdir? KehendakNya? Ah bukan, kawanku. Jangan mencari kambing hitam. Jangan menyalahkan sosok-sosok tak jelas. Jauh di dalam lubuk hati, kita tahu, bahwa awal dan akhir hidup kita hanya berkubang pada keserakahan, keserakahan kita terhadap hidup, keserakahan kita untuk menguasai dan menaklukkan dunia, demi kesenangan dan kebanggaan yang semu dan sama sekali tak berarti.


Dunia bergerak dan waktu terus berjalan masa lalupun ditinggalkan, sementara kita berusaha untuk meraih semua mimpi-mimpi dan harapan yang ingin kita nikmati. mereguk segala kesenangan dan kebahagiaan dunia. kita ingin menang,  maka segala teori pun kita ciptakan. kita ingin memperoleh segalanya dan memiliki segalanya, kita enggan untuk letih dengan berbagai cara bahkan jika bisa dan memungkinkan kita siap menghancurkan segala apa yang ada di depan kita , sesama manusia, binatang , tumbuhan, dan alam semesta,  demi kejayaan kita. demi kejayaan kita, bukankah begitu?
Jujurlah pada diri sendiri dan kita akan mendapatkan jawaban yang jujur pula.
Maka jika alam membalasnya beranikah kita untuk meyatakan siap dan ma untuk bertanggung jawab? Beranikah kita akui kesalahan dan kegagalan kita untuk memperbaiki apa yang telah kita hancurkan hanya demi keuntungan pribadi kita ? Ketika lumpur menyembur dari bumi, ketika banjir dan longsor mendera kehidupan kita, ketika kapal dan pesawat tenggelam dan jatuh menghempas bumi, ketika bumi semakin gersang dan cuaca berubah kian ekstrem, dan ketika jiwa-jiwa berguguran satu persatu, pada siapakah kita harus mempersalahkan? bukankah seharusnya, pertama-tama kita harus meninjau diri kita sendiri ? ketamakan dan keserakahan kita ? kebuasan kita untuk merusak dan menghancurkan demi menciptakan kejayaan diri kita sendiri. demi dompet dan kedudukan kita demi hasrat kita untuk berkuasa dan berjaya.  dan kita tetap bersembuyi di balik jubah keserakahan yang besar itu.

Hari menuju malam dan kemudian berganti siang terus berlalu, suatu waktu kita akan merasa kesepian. Jauh di bawah, sosok-sosok asing dan tak dikenal. Siapakah mereka? Siapakah aku? 

0 comments